TERUSAN GENTING KRA DAN EKSPOR PASIR LAUT INDONESIA

 TERUSAN GENTING KRA DAN EKSPOR PASIR LAUT INDONESIA

 

PENDAHULUAN

    Wilayah laut merupakan salah satu sektor yang dianggap krusial bagi setiap negara yang ada di dunia. Hal ini diakibatkan kawasan laut dapat memberikan dampak yang beragam bagi sebuah negara maupun kawasan, baik dalam segi ekonomi, keamanan & pertahanan, sehingga kawasan laut saat ini menjadi sumber konflik di beberapa negara. Dalam bidang ekonomi sektor kelautan bisa menjadi hal yang paling menguntungkan, hal ini dikarenakan mayoritas perdagangan dunia menggunakan laut sebagai media transportasinya. Dalam perjalanan kapal menyebrangi lautan tentunya akan melewati batas teritorial sebuah negara, dalam hal ini akan ada kebijakan pajak yang akan diterima oleh negara yang dilewati kapal tersebut. Tentu saja ini dapat menjadikan sumber pendapatan negara tersebut.

            Seperti yang kita ketahui bersama kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu jalur perlayaran tersibuk di dunia, hal ini dikarenakan adanya kehadiran Selat Malaka yang berada di garis silang lintas dagang dunia sehingga dapat menghubungkan Samudera  Hindia dengan Laut Natuna Utara, yang secara langsung dapat memberikan keuntungan terhadap kegiatan perdagangan. Berdasarkan negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia dan Thailand  termasuk Indonesia terletak di dalam kawasan Selat Malaka tersebut.

           Melihat adanya peluang keuntungan yang dimiliki Selat Malaka, beberapa negara mencoba membangun pelabuhan-pelabuhan yang ditujukan bagi kapal yang melitas Selat Malaka, baik pelabuhan asal, Transit maupun pelabuhan tujuan. Dalam hal ini Singapura-lah yang paling sukses dalam mengoperasikan pelabuhannya, disusul dengan Malaysia dan Indonesia. Tidak mau kalah dengan negara lainnya ternyata Thailand juga berusaha untuk mengambil kesempatan memperoleh pendapatan dari kegiatan pelayaran di Selat Malaka, bahkan lebih jauh Thailand yang bekerjasama dengan Tiongkok mewacanakan sebuah gagasan, pembuatan terusan seperti Panama di Amerika atau seperti terusan Suez di Mesir. Meskipun wacana ini masih jauh dari realisasi, setidaknya kajian ke arah sana harus segera di buat, mengingat dampaknya akan sangat terasa di kawasan Asia Tenggara.

            Tulisan ini juga akan menganalisa tentang bagaimana respon dan dampak bagi negara kawasan Asia Tenggara terutama yang terletak langsung di Selat Malaka [ Singapura, Malaysia, Indonesia ] serta siapa saja aktor yang terlibat dalam rencana pembangunan kanal ini. Serta mengamati dampak masa depan dan langkah masa kini  yang diambil negara-negara yang terdampak langsung di Kawasan Selat Malaka. Tulisan ini menggunakan sumber informasi terbuka, seperti artikel, jurnal dan website yang dikombinasikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan prediksi masa depan dengan dasar perilaku negara-negara terdampak langsung saat ini.

 PEMBAHASAN

         Wacana Terusan Genting Kra [ Thailand ], sejarah Thailand mencatat, setidaknya wacana ini sudah muncul pada tahun 1677, saat itu wacana ini dicanangkan oleh Kerajaan Siam dibawah kepemimpinan Raja Narai, ide ini disampaikan kepada seorang Arsitek Perancis yang bernama De Lamar, ide tersebut merencanakan pembukaan jalur dengan membelah daratan yang nantinya akan menghubungkan wilayah Songkhla di timur dengan Nakhon Si Thammarat di Barat. Alasan dibuatnya kanal ini, ialah sebagai penghubung sekaligus pengurai kawasan selat Malaka yang saat itu sudah sangat padat lalu-lintas pelayarannya. Akan tetapi wacana tersebut sulit direalisasikan akibat meninggalnya Raja Narai ditambah memburuknya hubungan Kerajaan Siam dengan Perancis. Kajadian itu berulang hingga era modern ini, wacana itu menguat kembali seiring ketatnya persaingan ekonomi dunia.


        Setelah mengalami pasang surut berkali-kali dan cukup panjang, antara tahun 2015-2017 wacana ini kembali mencuat lewat pernyataan yang dikeluarkan salah satu Institusi Thailand, yang menyatakan, bahwa sedang diadakan studi kelayakan atau Feasibility Study untuk pembangunan Terusan Kra tersebut. Tentu saja berita pembangunan Terusan ini kembali mengundang perhatian negara-negara yang bersinggungan langsung dengan Selat Malaka yang bila Terusan ini direalisasikan akan membawa perubahan yang besar untuk kawasan Selat Malaka. Karena akan memangkas jalur pelayaran yang melalui Selat Malaka. Terusan ini direncanakan akan membelah daratan sepanjang 102 Km dengan lebar Terusan sebesar 500 Mtr. Dibandingkan dengan terusan lain yang sudah ada di dunia, Terusan Kra ini akan menjadi Terusan terpanjang di dunia. Dan akan memangkas waktu pelayaran selama 2 hingga 3 hari pelayaran bila melalui Selat Malaka.         

     Untuk Indonesia dampaknya mungkin tidak seberapa, bahkan mungkin juga bisa menjadi peluang di bukanya pelabuhan samudra di Sabang [ yang sejak era Presiden Pertama RI telah dicangkan ] dan peningkatan pelabuhan di Belawan-Kota Medan.


    Demikian pula dengan Malaysia, pembukaan Terusan ini akan membawa dampak yang signifikan terhadap Pelabuhan Port Klang maupun peluang di bangunnya pelabuhan di Pulau Pinang [ Kedah ].

    Lain halnya dengan 2 negara tetangganya, justru Singapura akan terancam perekonomiannya bila Terusan itu jadi di realisasikan, bahkan dampak paling buruk adalah kalangsungan hidup atau eksistensi Singapura juga terancam.

   Sebagai negara yang menggantungkan ekonominya dari jalur perdagangan Selat Malaka, Singapura berupaya keras untuk mempertahankan ekonomi dan  kelangsungan hidup bangsanya. Dari pengamatan penulis, Singapura selain menjadikan negaranya sebagai negara yang ramah turis atau pendatang yang tidak menetap [ melegalkan Perjudian bagi pendatang / turis, tapi tidak untuk warga negara Singapura sendiri – paket pelayanan Rumah Sakit yang terintegrasi dengan Hotel – Perlakuan Khusus kepada pemilik modal yang mau menitipkan dananya di bank-bank Singapura atau yang mau berinvestasi bidang keuangan / teknologi di Singapura ], ramah bisnis [ memberikan keringanan pajak bagi perusahaan Internasional yang membuka kantornya di Singapura ], satu lagi, Singapura akan berusaha keras memanfaatkan keunggulan geografisnya yang menjadikannya jalur komunikasi internet dunia.

    Untuk memenuhi semua yang direncanakan, tentunya Singapura memerlukan pasokan energi yang besar untuk menghasilkan Listrik guna menyokong semua kegiatannya terutama menjaga kelancaran Jalur Internet Bawah Lautnya.

    Mungkin dengan Panel Surya bisa menjadi salah satu penyedia sumber Listrik [ adanya permintaan ekspor pasir Silika besar-besaran dari Singapura, seperti kita ketahuai bahwa pasir silika adalah bahan baku kaca yang salah satu komponen utama pembuatan panel Surya ].

    Setelah mendapatkan sumber Listrik akan disimpan dimana? Tentunya Singapura akan memerlukan storage atau accu yang besar untuk menyimpan Listrik yang akan dialirkan ke rakyatnya juga ke Industrinya.

   Salah satunya alternatifnya adalah Accu Pasir Laut [ Pasir Laut yang mempunyai kandungan garam yang tinggi ].

  Pertanyaan selanjutnya dimana mendapatkannya? Indonesia, kadar garam yang tinggi di perairan Selat Singapura dan Kepulauan Batam adalah jawaban yang masuk akal dari segi keekonomian. 

 

PENUTUP

      Dari uraian diatas, penulis berkeyakinan bahwa pasir laut yang di impor Singapura dari Indonesia selain sebagai tanah uruk untuk reklamasi pulaunya, ada juga pasir laut yang digunakan untuk penyimpanan Listrik atau accu pasir laut yang teknologi serta risetnya dilakukan bersama Tiongkok.

      Mengapa demikian, karena saat ini Tiongkok juga mengembangkan metode yang sama [ pasir laut dengan kadar garam tinggi ] dan juga sedang mengembangkan dari bahan baku limbah pengolahan tembaga yang di impor Tiongkok dari Jepang [ seperti kita ketahui Jepang mendapatkan bahan baku tembaga dari Indonesia “limbah dari Smelter” yang kita olah dari tambang Freeport Papua ]    

 

 

Semoga Bermanfaat,
Salam Indonesia Raya,


Debu Bayangan

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disclaimer Notice

Bargh Hallway Theory

Berfikir Ulang